WASPADA DAN KETAHUI CIRI-CIRI MISSIONARIS
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pengaruh Misionaris
Serangan
misionaris adalah serangan pembuka yang meratakan jalan bagi
imperialisme Eropa. Tujuannya untuk menaklukkan Dunia Islam melalui
penjajahan politik setelah penjajahan pemikiran. Setelah kaum
Muslim mengemban ideologi Islam dan berhasil menguasai Barat, dengan
keberhasilan-nya membebaskan Istanbul dan negara-negara Balkan, hingga
mengantarkan Islam ke daratan Eropa, maka Daulah Islam berbalik menjadi
sasaran serangan Barat. Barat mulai mengemban ideologinya ke Daulah
Islam dan menjadikannya panggung kebudayaan. Mereka menebarkan
ideologinya di Dunia Islam dengan berbagai macam sarana mengatasnamakan
ilmu, kemanusiaan, dan misionaris keagamaan. Barat tidak cukup dengan
membawa peradaban dan pemahaman-pemahamannya, tetapi juga menikam
peradaban dan pemahaman Islam. Serangan Barat ini membawa pengaruh,
bahkan menguasai kelompok intelektual, para politisi, dan masyarakat
Islam. Pengaruh serangan misionaris itu di antaranya:
Pertama, Tsaqâfah Barat membentuk kepribadian umat Islam. Penjajah Barat menciptakan metode-metode pengajaran dan tsaqâfah
berlandaskan falsafah, peradaban, dan pemahaman Barat. Proses ini terus
berlangsung hingga kepribadian Barat dijadikan sebagai asas kehidupan
Islam. Barat juga menjadikan sejarah, ruh kebangkitan, dan lingkungannya
sebagai sumber pokok nilai-nilai yang menjejali akal kita. Tidak cukup
dengan itu, Barat juga memasukkan ruh ini ke dalam berbagai metode
secara rinci hingga tidak satu pun tsaqâfah Islam mampu keluar dari landasan pemikiran umum yang menjadi falfasah dan peradabannya. Proses ini merata ke seluruh aspek tsaqâfah
Islam hingga merasuk ke dalam pelajaran agama dan sejarah Islam. Agama
Islam dipelajari di sekolah-sekolah Islam sebatas pada materi
spiritual-etika, seperti Barat memahami agamanya. Kehidupan Rasul
diajarkan kepada anak-anak kita yang mata rantainya terputus dari
kenabian dengan risalahnya. Bahkan sirah Nabi saw. diposisikan seperti
mempelajari kehidupan Napoleon atau Otto von Bismark. Akibatnya, Islam
tidak berpengaruh terhadap pemikiran dan perasaan umat.
Materi-materi
ibadah dan akhlak yang sebenarnya sudah tercakup dalam kurikulum agama
diberikan hanya dari sisi manfaat saja. Dengan demikian, pengajaran
agama Islam berjalan sesuai dengan pemahaman-pemahaman Barat. Sejarah
Islam diajarkan hanya dengan menonjolkan sisi-sisi aibnya yang sengaja
direkayasa. Akibatnya, mayoritas umat mengingkari tsaqâfah Islam jika bertentangan dengan tsaqâfah Barat. Mereka menjadi sekelompok orang yang ber-tsaqâfah Barat dan menerapkan segala kebijaksanaan searah dengan pandangan Barat. Mereka menerima tsaqâfah Barat dengan ikhlas dan mengemban peradabannya. Sebaliknya, mereka menjadi orang yang membenci Islam dan tsaqâfah Islam sebagaimana kebencian Barat. Mereka mengusung permusuhan keji terhadap Islam dan tsaqâfahnya, sebagaimana yang dibawa Barat.
Kedua, pembelaan
Islam yang keliru. Penjajah Barat yang menyerang Islam telah
menggentarkan sebagian kalangan intelektual Muslim. Mereka mencoba
menangkis tikaman ini dengan membela diri; tanpa memperhatikan lagi
apakah pembelaannya benar ataukah salah, baik yang ditikam oleh pihak
asing itu adalah Islam—yang dibanggakan—atau yang didusta-kan. Mereka
turut andil menafsirkan Islam dalam keadaan yang membingungkan, atau
menakwil-kan nash-nashnya sesuai dengan pemahaman-pemahaman Barat.
Demikianlah penolakan intelektual Muslim. Mereka menolak
serangan-serangan Barat, yang justru lebih banyak membantu serangan
misionaris daripada menolaknya. Bahkan mereka mengadopsi peradaban Barat
yang jelas-jelas bertentangan dengan peradaban Islam dan menjadikannya
sebagai bagian dari pemahaman-pemahaman mereka.
Ketiga, kehidupan umat Islam yang liberal. Adanya para intelektual yang ber-tsaqâfah asing dan buruknya pemahaman mereka terhadap tsaqâfah
Islam menyebabkan munculnya pemahaman-pemahaman Barat tentang kehidupan
dalam diri kaum Muslim. Hal ini tampak dalam kehidupan mereka berupa
praktik-praktik peradaban Barat yang materialistik. Akibatnya, kehidupan
masyarakat tunduk pada peradaban dan pemahaman Barat.
Semua
itu disebabkan oleh peradaban Barat yang dibangun di atas dasar
pemisahan agama dari negara (sekularisme). Kaum Muslim merasa sudah
melaksanakan kewajiban-kewajiban agama dengan meyakini Allah dan menjaga
shalat semata-mata. Pada saat yang sama, pengaturan urusan dunia
disuaikan dengan pandangan dan keinginan mereka semata.
Keempat, mencetak
politisi oportunis. Serangan Barat telah menjadikan para politisi
Muslim senantiasa meminta bantuan kafir penjajah. Pemikiran mereka
diracuni dengan ide-ide politik dan filsafat yang dapat merusak
pandangan mereka tentang kehidupan dan jihad. Hal ini mampu merusak
iklim Islam dan mengacaukan pemikiran-pemikiran yang gejalanya merata
dalam berbagai aspek kehidupan.
Jihad
yang merupakan ruh politik luar negeri Daulah Islam diganti dengan
perundingan. Kafir penjajah dijadikan kiblat pandangan mereka dan tempat
meminta bantuan. Mereka pasrah dan menyerah kepada kafir penjajah tanpa
menyadari bahwa setiap permintaan bantuan kepadanya ada dosa besar dan
sama saja dengan bunuh diri.
Para
politisi menjadikan pusat perhatiannya pada kemaslahatan individu
semata. Kemaslahatan umat sendiri terabaikan. Mereka kehilangan pusat
perhatian yang alami, yaitu mabda’ (ideologi) mereka yang islami.
Meski
mereka telah berjuang ikhlas dan mencurahkan segenap kemampuannya namun
keberhasilan seperti jauh panggan dari api. Semua gerakan politik
menjadi gerakan yang mandul. Kesadaran umat pun berubah ke
arah gerakan sporadis. Gerakannya tidak beraturan, lama kelamaan padam,
putus asa, dan akhirnya menyerah.
Fakta
ini muncul bersamaan di Negara Islam dengan tumbuhnya gerakan-gerakan
yang mengatasnamakan kebangsaan, sosialisme, nasionalisme, marxisme,
spiritualisme, akhlak, pendidikan, dan nasihat. Gerakan-gerakan ini
berkembang kacau dan menjadi problem baru dalam masyarakat, yang
bertumpuk dengan problem-problem lain. Hasilnya adalah kegagalan dan
kebingungan yang berputar-putar di seputar gerakan, karena aktivitasnya
berjalan sesuai dengan peradaban Barat dan terpengaruh oleh serangan
misionaris. Lebih dari itu, gerakan semacam ini akan membendung gelora
perasaan umat yang menyala-nyala dan menyalurkannya dalam sesuatu
aktivitas yang tidak bermanfaat dan tidak mendatangkan kebaikan, di
samping akan lebih mengokohkan kedudukan penjajah
Komentar